Pages

Sabtu, 06 Agustus 2016

Hari ini Sabtu, 06 Agustus 2016, pada pukul 14.00 WIB, aku menulis ini.

Pernahkan kalian menjalin hubungan dengan seseorang dengan level diatas kita? Dengan kata lain dia terlalu sempurna untuk kita. Okelah, manusia memang tidak ada yang sempurna, setahu saya manusia yang paling sempurna adalah Rasulullah. Iya kan? Tentu saja. Akan tetapi sebagai seseorang yang ditakdirkan berpasang-pasangan kita pasti mengharapkan sosok yang sempurna. Sempurna dalam arti segala yang kita butuhkan, dia memilikinya. Dan sempurna versi setiap orang sudah tentu berbeda-beda.

Akan tetapi bagaimana jika kita dihadapkan pada seseorang yang memiliki sesuatu yang melebihi kriteria kita? Itu yang saya maksudkan dipertanyaan di kalimat pertama postingan ini. Pernahkah kalian? Sebagian dari kalian pasti pernah. Lalu apa yang terjadi dan bagaimana menyikapinya, itu semua kembali ke diri kita masing-masing, seluas apa daya pikir kita dan sebesar apa kedewasaan kita.

Dalam kasusku, sudah beberapa kali aku dihadapkan dengan situasi seperti itu, dan hanya saat ini lah semuanya berantakan. Semua sikap yang selama ini aku tunjukkan untuk situasi seperti ini mendadak hancur lebur, membuat hidupku kini bermuram durja. Hahaha!

Apa yang aku lakukan selama ini hanyalah untuk memantaskan diri. Membangun kepribadian dan segalanya agar pantas untuk bersanding dengannya. Lebay mungkin, tapi apa dikata, hidupku sudah kuorientasikan untuk itu. Segala sesuatu, dari hal yang sepele hampir sudah kulakukan. Setiap langkah selalu aku pertimbangan agar tidak merusak apa yang sudah kubangun selama ini.

Tapi aku baru tersadar beberapa saat yang lalu, bahwa ketika ia pergi tapi tak menoleh ke belakang untuk melihatku, seharusnya aku tahu bahwa ia tak pernah merindu. Dan setiap kali aku membuatnya merasa terkesan, ia tak pernah mengambil ponselnya untuk menghubungiku, seharusnya aku sadar bahwa ia sama sekali tak tertarik. Lalu aku mengambil kesimpulan bahwa aku ini, pria yang terlalu percaya diri dengan apa yang diyakininya, terlambat untuk mengetahui arti dari "penolakan". Bagaimana mungkin aku melewatkan kesimpulan ini, ketika ia tak pernah sekalipun berbalik dan bertanya "hei, apa kamu ingat itu?". Dia, wanita itu, wanita terakhir yang membawa hubungan tak masuk akal ini, selalu melakukan yang terbaik disetiap waktu bersama, terlihat begitu menikmatinya, setiap detiknya, tapi sama sekali ia tak pernah mencoba kembali untuk mengenangnya. Bagaimana bisa aku melewatkan itu semua?! Bodoh..

Lalu yang terjadi sekarang, yang pasti kalian juga sudah menduganya, sebuah akhir dimana tidak ada aku dalam cerita bahagianya. Seperti halnya dalam film drama, tentu saja ia telah menemukan seseorang yang mampu berdiri di sampingnya dengan sejajar.

Dan lalu di sudut ini, ada aku yang tenggelam nyaris ditelan bumi. Semua yang aku perjuangkan selama ini, semua yang aku banggakan selama ini, hancur lebur seperti istana pasir yang menjulang tinggi di bibir pantai tersapu keangkuhan sang ombak. Dan yang tersisa hanyalah rasa sakit dan kecewa yang teramat dalam. "Aku telah dikhianati, ia talah berkhianat", itulah kata-kata yang selalu muncul dalam benakku, aku telah dikhianati, ya benar ia telah berkhianat, tapi apakah itu kebenaran sejatinya? Apa benar aku telah dikhianati? Bukankah aku yang telah menghianati diriku sendiri? Dengan menumbuhkan harapan-harapan yang tak masuk akal, dengan meyakinkan diri "ia adalah kemungkinan yang akan selalu aku semogakan",  hahaha itu hanya omong kosong. Aku yang telah menghianati diriku sendiri dengan melakukan itu semua.

Tapi kawan, tahukah kalian bahwa bukan hanya rasa kecewa dan sakit hati yang aku rasakan? Aku berhasil menemukan sesuatu yang berharga di sudut hatiku, nyaris tak terlihat memang dan aku bersyukur telah menemukannya. Sesuatu itu adalah perasaan lega. Hahaha! Tiba-tiba aku merasakan perasaan lega yang aneh ditengah-tengah keterpurukanku. Aku begitu lega mendapati ia telah bersama dengan seseorang yang pantas. Aku begitu lega karena dengan kejadian itu semua menjadi masuk akal lagi untukku. Iya, aku lega, benar-benar lega. Tapi apakah aku telah menyerah? Aku tak tahu,















seperti kata orang-orang "Tak ada yang berakhir sebelum semuanya benar-benar berakhir". :')

Teruntuk satu-satunya cinta yang tak akan pernah bisa aku miliki, Antin.

0 comments:

Posting Komentar

 
Copyright 2012 AnganKu. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates